Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Inggris

07.36 Posted In Edit This

Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Inggris



Penguasaan Bahasa Inggris merupakan kunci keberhasilan bagi individu, masyarakat dan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang di era globalisasi ini. Aktivitas untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi berbahasa Inggris dapat dilakukan dengan berbagai cara dan di berbagai tempat. Namun anak-anak Indonesia sebagian besar menggunakan atau memanfaatkan kegiatan pembe- lajaran berbahasa Inggris di sekolah-sekolah formal. Maka sekolah formal menjadi tumpuan utama pembelajaran bahasa Inggris yang akan menjadi bekal anak-anak Indonesia dalam menapaki kehidupan masa depan mereka.

Dari tahun ke tahun keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di SMA masih belum memuaskan para orang tua, professional dan dosen dengan melihat kenyataan bahwa kompetensi berbahasa para lulusan SMA yang masih belum sesuai dengan harapan kita. Kurikulum bahasa Inggris hampir setiap sepuluh tahun sekali diperbaharui sebagai upaya meningkatkan tingkat keberkeberhasilan siswa menguasai bahasa Inggris. Upaya melalui kurikulum ternyata tidak cukup tanpa disertai upaya peningkatan mutu para guru bahasa Inggris dan juga pembaharuan akan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik siswa. Bahan ajar, oleh sebab itu, juga menjadi faktor penentu keberhasilan para siswa SMA dalam belajar bahasa Inggris.

Tujuan penelitian pengembangan bahan ajar pada tesis ini adalah untuk menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik siswa SMA Negeri 14 dab 17 Surabaya. Data awal dari kebutuhan serta karakteristik siswa diperoleh melaui tes tulis meliputi penguasaan grammar points serta penerapannya dalam berkomunikasi dalam bentuk teks (Genre). Dari hasil analisis kebutuhan serta analisis karakteristik siswa SMA Negeri 14 dan 17 Surabaya, diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatan hasil belajar bahasa Inggris mereka adalah pendekatan yang di dalamnya terdapat keseimbangan antara teori dan praktek. Ini tidak laian adalah pendekatan yang memiliki bentuk, langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menyeimbangkan antara latihan-latihan untuk menanamkan pengetahuan dan penguasaan pada komponen kebahasaan, grammar, vocabulary ,spelling pronunciation, intonasi dengan latihan-latihan penggunannya dalam praktek berkmonikasi secara lisan dan tulis. Pendekatan pembelajaran ini disebut Genre Approach (Berpendekatan Teks) Pengembangan bahan ajar bahasa Inggris SMA untuk semester gasal kelas XII ini menggunakan Genre Approach yang mencakup jenis-jenis teks transactional text dan major texts (narrative, explanation, discussion) sesuai Standar Isi mata pelajaran bahasa Inggris.

Pengembangan bahan ajar buku SMA ini dirancang dengan menggunakan model rancangan Dick and Carey yang kemudian menghasilkan draf bahan ajar buku. Draf tersebut selanjutnya diuji-cobakan sebanyak empat tahap. Pada masing-masing tahap ada dua kegiatan yaitu evaluasi dan revisi terhadap draft bahan ajar. Adapaun empat tahapan uji coba draf bahan ajar bahasa Inggris, yaitu:

(1) review draft oleh ahli mata pelajaran bahasa Inggris dan

(2) review draft oleh ahli perancangan pembelajaran bahan ajar buku bahasa Inggris

(3) diuji-cobakan pada teman sejawat guru bahasa Inggris di SMA Negeri 14 dan 17 Surabaya dan juga

(4) diuji cobakan pada 20 siswa dari dua sekolah tersebut.

Teknik pengumpulam data dilakukan melalui angket. Hasil review awal, tahap 1 dan tahap 2, pengembangan menunjukkan bahwa bahan ajar itu masih memiliki kekurangan. Atas saran-saran kedua ahli, bahan ajar bahasa Inggris dan ahli desain buku bahan ajar bahasa Inggris, beberapa kekurangan dapat direvisi menjadi lebih baik. Kemudian setelah direvisi uji coba dilanjutkan untuk memperoleh tanggapan pada teman sejawat. Berbagai kekurangan seperti latihan grammar yang dianggap kurang memadai, rangkuman-rangkuman perlu disediakan, tingkat kesulitan teks yang masih terlalu tinggi dan vocabulary yang latihannya kurang variatif dapat ditampung. Kemudian revisi juga dilakukan untuk kemudian tahap terakhir diuji-cobakan untuk memperoleh tanggapan pada 20 siswa, sebanyak 10 siswa pada tiap sekolah.

Akhirnya, penelitian pengembangan bahan ajar buku bahasa Inggris ini memperoleh data prosentase penerimaan siswa terhadap bahan ajar buku bahasa Inggris semester gasal kelas XII di SMA Negeri 14 dan 17, yaitu sebesar 76,1 % dari siwa SMA Negeri 17 dan 78, 4 % dari siswa SMAN 14. Besarnya prosentase ini juga sama dengan nilai kualitas bahan ajar buku bahasa Inggris yang dikembangkan. Untuk prosentase tersebut, bahan ajar masuk kategori layak dipakai dan tidak diperlukan direvisi.

Mendiskusikan Konsepsi dan Praktek Pendidikan HAM di Indonesia

07.35 Posted In Edit This
Mendiskusikan Konsepsi dan Praktek Pendidikan HAM di Indonesia

Oleh Dadan Ramdan

"Model dan Formulasi pendidikan HAM di Indonesia yang lebih praktis tidak cukup dengan menggunakan instrumen kebijakan dan kelembagaan negara namun harus dikonstruksi melalui suatu diskursus kritis yang menyatukan antara konsepsi yang ada dengan kenyataan-kenyataan sosial masyarakat Indonesia"

Dari sisi sitem ketatanegaraan, upaya Indonesia untuk terlibat aktif dalam memajukan dan menegakkan HAM sudah dilakukan minimalnya dalam 2 instrumen kebijakan yaitu kebijakan tata hukum (konstitusional) dan instrumen kelembagaan (institusional) sebagai alat untuk menjalankan instrumen yang ada.

Dari sudut konstitusional, Negara Indonesia sudah mengakui dan meratifikasi berbagai peraturan internasinal tentang HAM ke dalam sistem hukum Indonesa. Aturan-aturan yang sudah dirumuskan termuat dalam beberapa aturan, diantaranya :

1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan perubahannya Bab XA tentang "Hak Asasi Manusia"

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia

3. Undang-undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia tahun 2004-2009.

Dari sudut intitusional,negara indonesia memiliki instrumen kelembagaan untuk menjalankan sistem /aturan yang ada.Instrumen yang dimaksud adalah:

1. Komite Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) yang dibentuk sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 yang kemudian dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999.

2. Pembentukan Kantor Menteri Negara Hak Asasi Manusia pada tahun 1999 yang kemudian bergabung dengan Departemen Hukum dan Perundang-undangan yang kemudian berubah menjadi Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 tahun 2003. Lembaga ini bersifat independen yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak.

4. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) sesuai Surat Keputusan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Nomor 02/KPAI/IX/2004 tentang Pedoman Pembentukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID). embaga ini bersifat independen yang dibentuk untuk kepentingan anak di daerah provinsi dan/atau kabupaten /kota.
Pembentukan KPAID bukan merupakan kewajiban atau keharusan tetapi merupakan kebutuhan daerah masing-masing..

5. Panitia Pelaksana Kegiatan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia(RANHAM).
Untuk melaksanakan RANHAM Indonesia telah dibentuk suatu Panitia Nasional yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Namun kenyataan di lapangan, praktek pelaksanaan penegakan atas hak-hak dasar manusia (HAM) di Indonesia belum sepenuhnya membuahkan perubahan progresif dan baik bagi penghargaan dan penghormatan, perlindungan terhadap otoritas kemanusiaan dan hak ekonomi, sosial dan budaya. Banyak ditemukan fenomena persoalan yang menunjukan implementasi HAM belum berjalan secara maksimal.

Persoalan-persolan yang bisa dipotret dan teridentifikasi dari berbagai pendekatan kasus-kasus di lapangan diantaranya adalah :

1. Penegakan hukum lemah yang kolutif, koruptif dan diskriminatif. Misalnya: Lemahnya sangsi hukum bagi pelanggar hukum yang berat.

2. Masih banyaknya kasus pelanggaran hukum/HAM yang dilakukan oleh pelaku pelanggar baik oleh aparatur negara maupun masyarakat yang belum terselasaikan, misalnya berlarut-larutnya penanganan kasus Munir, pelanggaran hak asasi manusia yang berat seperti Timor Timur,Tanjung Priok, Trisakti, Abepura dan pelanggaran HAM lainnya.

3. Munculnya kasus-kasus pelanggaran baru yang dilakukan, yang oleh sebagian pihak bukan dikatagorikan sebagai pelanggaran HAM. Contoh kasus banyak ditemukan diantaranya masih rendahnya akses dan jaminan dan pelindungan terhadap hak-hak anak dan masyarakat terhadap sektor pendidikan (akses dan pemerataan, pendidikan murah), sektor kesehatan (akses mendapat layanan kesehatan yang memadai, hak untuk memperoleh lingkungan yang sehat, penggusuran para pedagang dan anak jalanan di perkotaan, rendahnya akses msyarakat terhadap pekerjaan, diskriminasi terhadap buruh bahkan rendahnya akses masyarakat (petani) terhadap sumber daya alam yang ada.

Selain pendekatan kasus yang telah dikemukakan di atas, implementasi penegakan HAM pun mendapat kendala struktural dan kultural. Kendala struktural bisa kita identifikasi dari fenomena belum sepenuhnya instrumen kebijakan HAM bisa dijalankan secara maksimal oleh aparatur kelembagaan dan penegak hukum dan HAM.

Dari sisi kultural, terjadi pertentangaan-pertentangan nilai di berbagai negara dan masyarakat mengenai konsepsi HAM yang berlaku saat ini. Ada sejumlah negara, khususnya yang berada di kawasan Asia, menganggap HAM bukan sesuatu yang universal. Menurut mereka yang berpaham antiuniversalitas HAM itu, pengakuan universalitas HAM berarti mengingkari adanya relativisme kultural yang ada di bumi ini.

Sebagian pihak belum sepenuhnya mengakui HAM sebagai satu instrumen kebijakan negara yang harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan oleh warga/masyarakat di suatu negara.Berdasarkan alasan historis berbagai pihak menilai bahwa konsepsi /nilai-nilai HAM merupakan konsepsi negara-negara BARAT yang dipaksakan kepada negara-negara berkembang (TIMUR)untuk dijalankan.

Dalam konteks Indonesia, pelaksanaan HAM mendapat tantangan kultural berkaitan dengan universalitas, nilai dan Prinsip HAM saat ini. Perdebatan-perdebatan sosial dan budaya mengenai esensi dan eksistensi HAM pun terus tak terelakan. Kalangan agamawan fundamentalis dan entitas adat menolak penyeragaman HAM karena sebagian prinsip dan nilai HAM bertentanngan nilai-nilai yang diyakininya.

Selain persoalan diatas, fenomena atau masalah kultural yang muncul adalah model pendidikan HAM selama ini masih dominan dilakukan pada lembaga tertentu dan persekolahan semata. Bahkan ketika pendidikan HAM diberikan di sekolah tidak jarang mendapat kendala-kendala terutama bagaimana pemahaman HAM diterapkan dan bagaimana menyusun metodologi pembelajaran HAM yang lebih baik dan efektif dan tidak menimbulkan pertentangan-pertentangan sosial.

Jika kita amati, persoalan-persoalan struktural dan kultural yang muncul disebabkan berbagai asumsi-asumsi persoalan,yaitu :

1. Belum adanya konsepsi dan pendidikan HAM yang lebih adaptif yang disesuaikan dengan realitas sosial, budaya dan adat masyarakat Indonsia.

2. Penanganan pelanggaran HAM masih dilakukan pada pendekatan-pendekatan kasus hukum atau lebih menitikberatkan pada sisi sipil dan politiknya. Sementara, pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak sosial, ekonomi dan budaya belum menjadi perhatian negara.

3. Kapasitas aparatur negara (kelembagaan) dinilai masih lemah dalam menjalankan instrumen kebijakan HAM baik di tingkat nasional maupun daerah yang sudah terbentuk.

4. Lemahnya praktek pendidikan dan kampanye HAM untuk mendorong kesadaran berbagai pihak (negara-rakyat) untuk mengetahui, memahami, menerapkan konsepsi HAM yang lebih adapatif dan lokalistik.

Praktek pendidikan HAM di Indonesia memang sudah berjalan, namun masih terbatas pada kelompok dan kelembagaan tertentu.

Dalam sistem pendididikan kita, materi pembelajaran HAM memang sudah dimulai di tingkatan sekolah mulai SD sampai perguruan tinggi. Khusus, pendidikan dan pembelajaran HAM di sekolah dinilai masih memiliki banyak kekurangan, baik subtansi materi, kapasitas dan metodologi pendidikan/pembelajaran HAM. Materi HAM yang disajikan hanya menjadi salah satu pokok bahasan dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran (PPKn) sekitar 2-4 jam perminggu. Selain itu, materi pembelajaran HAM masih memuat materi-materi yang bersifat hapalan dan pengetahuan saja.

Persoalan lain adalah kapasitas pendidik untuk memahami HAM dinilai masih lemah,terutama dalam memahami esensi HAM. Kemudian, persoalan belum adanya metodelogi pendidikan HAM di sekolah yang berdampak signifikan pada perilaku dan sikap masyarakat.

Khusus,untuk menjawab persoalan rendahnya praktek pendidikan dan kampanye HAM dalam sistem pendidikan kita, maka diperlukan usaha-usaha strategis yang susun dan direncanakan bersama oleh negara dan rakyat.Dalam kerangka praktek pendidikan HAM yang akan diterapkan maka upaya-upaya yang harus dilakukan adalah

1. Melakukan diskursus untuk menghasilkan konsepsi HAM yang lebih adaptif dan lokalistik dengan realitas sosial,ekonomi, budaya daerah yang ada dengan mempertimbangkan sudut pandang historis, philosofis, sosiologis. Diskurus ini harus melibatkan semua pemangku pendidikan di nasional dan daerah dengan melibatkan pelaku kelembagaan HAM lainnya.

2. Mendesain kebijakan model kurikulum pendidikan HAM yang akan diterapkan.

Penyusunan model kurikulum pendidikan HAM sangat penting untuk dilakukan. Selama ini materi pendidikan HAM masih terintgrasi pada materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan selama 2 jam seminggu.

Penyusunan model kurikulum yang diterapkan harus mempertimbangkan aspek berikut :

1) Kondisi Khusus
Kondisi khusus yang dimaksud kenyataan-kenyataan sosial mencakup kondisi geografis, bahasa, sosial, budaya, ekonomi,masalah/kasus)

2) Aspek Pendidikan HAM
Aspek Pendidikan HAM harus memperimbangkan aspek :

 Kognitif (pengetahuan dan pemahaman yang utuh tentang HAM)

 Apektif (sikap dan kesadaran : solidaritas dan kolektifitas)

 Psikomotorik (Pemecahan Masalah, mandiri, kerampilan resolusi konflik)

3) Materi /silabus Pendidikan HAM

 Materi pendidikan HAM harus memiliki tujuan dan orientasi yang pada membangun kesadaran warga negara akan hak-hak sipol dan ekosob, menjunjung prinsip keadilan dan Kemanusiaan.

 Materi pendidikan HAM harus memuat materi yang lebih mengakomodir hak-hak warga negara terhadap akses ekonomi, sosial dan budaya tidak hanya pada sisi hak-hak sipil dan politiknya

 Materi HAM perlu dikontruksi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi khusus/lokalistik baik bahasa, geografis, sosilogis, budaya.

 Modul pendidikan HAM tidak diperlu diseragamkan, menu pembelajaran bisa di sesuaikan kebutuhan penggunaan materi atau modul.

4) Subjek Pendidikan

Subjek/pelaku pendidikan HAM tidak hanya dilakukan di sekolah formal. Pendidikan HAM bisa dilakukan dengan mamanfaatkan kelembagaan pendidikan dan sosial yang ada di masyarakat misalnya organisasi kepemudaan, lembaga swadaya masyarakat,kelompok-kelompok Tani,Organisasi perempuan,kalangan akademisi kampus,kelompok Mahasiswa, dan kelompok sektoral lainnya. Selain itu, aparatur negara dan birokrasi negara perlu dibekali pemahaman tentang HAM.

5) Metodelogi Pendidikan HAM

Metode pendidikan harus lebih praktis,dialogis/dialektif, lokalistik, pelibatan aktif, kritis, berbasis pendekatan kasus yang ada dan penyeselesaian masalah, bukan hapalan saja.

6) Pengelolaan Kelembagaan

Lembaga yang terlibat dalam pendidikan HAM harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang relevan dalam pendidikan. Lembaga yang bisa diperankan adalah Dinas Pendidikan baik nasional dan daerah, KOMNASHAM, DEPKUMHAM, dan lembaga-lembaga operasional lainnya yang berada di daerah serta organisasi non pemerintah.

3. Peningkatan kapasitas aparatur penegak HAM dan tenaga-tenaga fasilitator HAM.

4. Kampanye yang lebih luas mengenai prinsip-prinsip HAM baik hak-hak Sipil dan hak ekonomi, sosial dan budaya yang lebih luas kepada semua pihak dengan menggunakan berbagai media sosialisasi dan komunikasi yang ada.

Upaya yang dikemukan diatas hanya merupakan sebagian kecil dari cara yang harus dilakukan dalam memajukan pendidikan HAM di Indonesia. Memiliki model pendidikan HAM yang lebih praktis memang harus berangkat dari kenyataan sosial yang ada. Di bangun dari kesadaran kritis semua pihak tentang esensi HAM bukan dipaksakan dan rakyat harus menelan secara bulat-bulat.

Anggaran Pendidikan Formal-Informal tak Berimbang

07.34 Posted In Edit This
Anggaran Pendidikan Formal-Informal tak Berimbang


MAKASSAR -- Hingga saat ini anggaran untuk sektor pendidikan formal dan informal yang tersedia dalam APBD Sulsel, belumlah berimbang. Hal ini diakui Gubernur Sulsel, HM Amin Syam, sesaat setelah mengukuhkan pengurus Dewan Pengurus Provinsi Himpunan Penyelenggara Pelatihan dan Kursus Indonesia (DPP-HIPKI) Sulsel periode 2006-2010, di Gedung Jendral M Jusuf, Selasa (29/8).
Meskipun terjadi ketidakberimbangan tersebut, menurut Amin Syam, tidak berarti kalau Pemprov Sulsel telah menganaktirikan lembaga pendidikan informal atau pendidikan luar sekolah (PLS). ''Saya secara pribadi menegaskan, tidak ada istilah antara anak emas dan anak tiri pada lembaga pendidikan yang ada di daerah ini. Bagi saya, semuanya adalah anak emas yang tentunya butuh perhatian yang sama,'' tandasnya. Mungkin, kata dia, selama ini ada penafsiran, praduga, maupun kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat bahwa pendidikan formal lebih diutamakan dibandingkan pendidikan informal. ''Tapi saya tegaskan disini bahwa itu tidaklah benar. Lembaga pendidikan informal bukan anak tiri,'' tambahnya. Dikatakannya, penyelenggara pendidikan kursus bukanlah sekadar suplemen, tapi menjadi inti dari penyelenggaraan pendidikan. Ada dua tolok ukur yang menjadi barometer berhasil tidaknya suatu lembaga pendidikan kursus. Tolok ukur secara internal adalah sampai sejauhmana lembaga tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang ada di dalamnya. Sedangkan secara eksternal, bagaimana lembaga itu dirasakan menguntungkan oleh masyarakat secara umum. Pada dasarnya, keberadaan lembaga pendidikan luar sekolah telah memberi andil cukup besar dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. ''Diakui atau tidak, keberhasilan sejumlah siswa dari daerah ini dalam menjuarai berbagai lomba berbasis ilmu pengetahuan, baik tingkat nasional maupun internasional, juga tidak terlepas dari peranan para pengajar di lembaga informal itu,'' terangnya. DPP HIPKI Sulsel yang dilantik, dinakhodai oleh Hamka Latif,SSos selaku Direktur Eksekutif yang juga Direktur LPPTM Yayasan Sikatutui Sulsel. Sementara Sekretarisnya, Aly Anwar,SS, Direktur Sentra Pendidikan Bisnis. (mir)

LPTK di Indonesia

07.33 Posted In Edit This

LPTK di Indonesia


Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan (LPTK) merupakan lembaga penghasil guru di Indonesia, yang sangat berperan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Idonesia.

Sering perjalanan waktu lembaga ini berganti nama dari IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) sekarang menjelma menjadi Universitas. Produk lulusan Universitas exs IKIP bukan hanya memproduksi tenaga pendidikan tetapi juga non pendidikan. Peningkatan peran dan fungsi LPTK ini sebenarnya bukan menjadi permasalahan, akan tetapi produk LPTK sebagai penghasil guru tidak terencana secara baik oleh pemerintah misalnya pemantauan LPTK sebagai penghasil tenaga pendidikan sangat kurang, kebijakan terbuka bagi LPTK untu menghasilkan tenaga guru sebayak-banyaknya, dan kurang terpantaunya kelas-kelas jauh bagi peindidikan guru.

Kebebasan membuka program LPTK oleh pemerintah akan menurunkan kualitas pendidik itu sendiri. Jika dilihat dari rasio perbadingan jumlah tenaga guru dengan murid ditingkat pendidikan dasar sampai menengah di Indonesia masih sangat baik di bandingkan negara lain bahkan kita setara denga Jepang. Akar masalahnya adalah kompetensi lulusan sekolah yang masih dibawah standar nasional dan dibawah negara lain. Maka tiap tahun muncul derita-derita guru dalam menghadapin Ujian Nasional (UN)seperti air mata guru di Sumatra Utara. Pelbagai penelitian pendidikan menyatakan "mutu kompetensi pendidik berpengaruh signifikan terhadap mutu lulusan". Melihat hal ini wajib hukumnya bagi pemerintah untuk meningkatkan mutu tenaga pendidikan melalui LPTK yang bermutu dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan pemerintahpun pernah melakukan uji kompetensi bagi guru dan hasilnya sangat mengecewakan.

Kebutuhan guru bagi sekolah negeri maupun swasta dapat diprediksi secara tepat, dengan demikian pemerintahpun dapat menghasilkan tenaga pendidik yang selektif serta berkualitas. Yang perlu menjadi catatan bagi pemerintah : hampir tidak terdapat pendidikan tenaga guru yang dibiarkan secara terbuka seperti di Indonesia, meraka menyiapkan tenaga guru secara cermat. Di Malaysia mereka mencetak tenaga guru sesuai dengan jumlah kebutuhan guru, maka lulusan tenaga guru 99,72% terserap oleh kerajaan .

Usaha untuk meningkatkan kompetensi guru seperti tertuang dalam standar nasional pendidikan harus berkualifikasi Strata 1 tidak ada artinya jika LPTKnya tidak dipantau secara apik oleh pemerintah. Usaha ini harus terintegrasi dengan rekrutmen guru, pengembangan/pembinaan profesi guru dan tentunnya penghasilan yang memadahi sehingga memberi daya tarik bagi para generasi muda putra terbaik bangsa untuk bersedia menjadi guru.

Walikota Buka Work Shop Pengembangan Taman Pendidikan Al Qur’an

07.28 Posted In Edit This
Walikota Buka Work Shop Pengembangan Taman Pendidikan Al Qur’an

Walikota Kupang Drs. Daniel Adoe mengatakan bahwa akhir-akhir ini tingkat partisipasi komponen masyarakat Kota Kupang sungguh besar terhadap proses pendidikan apa saja di Kota Kupang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga pendidikan swasta khususnya yang berada di bawah naungan lembaga keagamaan mampu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap proses pendidikan di Kota Kupang.Hal tersebut dikatakan Walikota Kupang ketika membuka kegiatan Work shop pengembangan Taman Pendidikan Al Qur’an oleh Yayasan Pendidikan Muslimat NU Bina Bhakti Wanita Provinsi NTT, kamis 6/11 bertempat di Aula Hotel Sasando Kupang.Menurut Walikota, setiap upaya yang dilakukan baik dalam konteks partispatif masyarakat maupun yang merupakan tanggungjawab pemerintah, harus senantiasa diarahkan untuk memperkuat basis pendidikan bagi anak-anak yang nantinya akan berdampak terhadap semakin terbukanya kesempatan untuk belajar demi peningkatan taraf-taraf kecerdasan, sekaligus pemahaman dan pengamalan terhadap nilai-nilai moralitas, spiritualitas dan keimanan.Lebih dari itu, sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam proses pembangunan ke depan adalah mereka-mereka yang tidak hanya pandai, cerdas, dan berilmu tetapi harus berahklak mulia serta memiliki iman dan ketaqwaan kepada Tuhan.Walikota memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap langkah strategis yang digagas oleh Yayasan Pendidikan Muslimat NU Bina Bhakti Wanita Provinsi NTT, yang membuktikan bahwa kaum perempuan mampu menampilkan peran strategisnya di dalam upaya membangun aspek-aspek kehidupan bermasyarakat khususnya pada jalur pendidikan.Walikota berharap agar melalui kegiatan work shop ini akan terkuak berbagai pemikiran yang dimensional dan ide-ide konstruktif yang mampu memberi jalan keluar terhadap setiap kendala atau permasalahan yang dihadapi. Walikota juga berharap kiranya langkah strategis yang ditempuh ini akan menjadi model yang baik bagi semua perempuan di daerah ini untuk menampilkan peran masing-masing secara signifikan dalam meningkatkan kualitas diri, memajukan taraf hidup keluarga dan masyarakat, sekaligus meningkatkan amal ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.Sementara itu Ketua Yayasan Muslimat NU ( YPMNU ) Bina Bhakti Provinsi NTT Hj. Siti Rahma Amirudin dalam sambutannya mengatakan, Yayasan Bina Bhakti NU menaungi pendidikan formal, nonformal, dan informal. Menurutnya kegiatan work shop ini adalah salah satu bentuk pendidikan informal dan tujuannya adalah untuk mendukung program pengembangan kelembagaan TKQ dan TPQ sehingga dapat meningkatkan kapasitas lembaga pembina, pengembang dalam merencanakan serta memonitoring dan evaluasi program pengembangan kelembagaan TKQ dan TPQ.Acara pembukaan work shop ditandai dengan pemukulan bedug oleg Walikota Kupang disaksikan oleh Ketua MUI Kota Kupang H. Abdul Fatah Ahmad, Direktur Wilayah Lembaga Pengembangan TKK Al Qur’an H. Saleh Orang dan Ketua Yayasan Muslimat NU Bina bhakti Prov. NTT, Hj. Siti Rahma Amirudin.

Seni Tradisi (Nusantara) dan Pembelajarannya di Sekolah

09.37 Posted In Edit This
Seni Tradisi (Nusantara) dan Pembelajarannya di Sekolah 



Sejak beberapa tahun ini, banyak dari kalangan penentu kurikulum memfokuskan diri pada seni tradisi. Selain itu, tak sedikit pula kalangan yang mempertanyakan kembali tentang kehidupan seni tradisi saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah, masih potensialkah jika kita mengangkat seni tradisi dimana ia hidup dalam kepungan budaya populer dan modern saat ini? serta mampukah seni tradisi memikat siswa dalam pembelajaran seni di sekolah dimana para siswa telah terpengaruhi dirinya dengan budaya populer dan modern saat ini? Belum banyak yang kemudian mempersoalkan bagaimana seni tradisi berperan dalam konteks kehidupan siswa? 

Apakah seni tradisi akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan siswa? Bahkan menurut Prof. Waridi (seorang guru besar dari ISI Solo), masih jarang yang mempertanyakan dan menggali secara sungguh-sungguh kemampuan dan potensi nilai-nilai ketradisionalan seni nusantara dalam ikut menganyam pencitraan identitas bangsa. Juga belum banyak yang mencoba membicarakan potensi seni tradisi dalam konteks kekinian. Belum banyak pula yang menggagas untuk menjadikan seni tradisi sebagai sarana penanaman nilai-nilai kenusantaraan terhadap siswa-siswa sekolah sejak dini. Justru yang terjadi adalah sebuah perdebatan yang tiada kunjung selesai terhadap pilihan-pilihan materi pendidikan seni yang harus dikomposisikan dalam disain kurikulum sekolah formal serta peminggiran-peminggiran eksistensinya. 

Saya pikir perdebatan semacam itu tidak akan kunjung selesai bila masing-masing kelompok melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Di satu pihak ada yang memandang bahwa tradisi itu kuno, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Sementara di pihak lain ada yang memandang bahwa saat ini memandang seni tradisi dalam konteks budaya Indonesia sangat diperlukan. Kenapa? Karena apabila dilihat dari keberadaannya (diakui atau tidak), seni tradisi ternyata telah berhasil membawa bangsa Indonesia ke dalam kancah pergaulan internasional. Seni tradisi memiliki kemampuan dan potensi untuk mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Karena ternyata dengan seni lah Indonesia dapat dikenal dunia, daripada ekonomi dan teknologinya. Sudah banyak seniman-seniman kita yang melanglang buana keliling dunia dengan unjuk kabisa dalam bidang seni tradisi. 

Seni Tradisi 

Dari sudut pandang kebudayaan, Prof. Waridi mengatakan bahwa seni adalah salah satu bentuk ekspresi budaya. Kebudayaan ada karena sengaja diadakan oleh manusia untuk membentuk sebuah peradaban bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya serta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya hanya manusialah makhluk yang berkebudayaan dan yang memiliki peradaban dalam hidupnya. Salah satu wujud produk kebudayaan manusia, adalah seni. Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika kemudian banyak yang menyatakan, bahwa seni tradisi dapat mengungkapkan sikap dan proses pengetahuan sosial. Bila demikian halnya, maka sebenarnya wujud seni tradisi tidak hanya berurusan dengan estetika, melainkan di dalamnya mengandung persoalan-persoalan non seni yang multidimensi. 

Faktanya di lapangan menunjukkan, bahwa seni tradisi memiliki wajah yang jamak (multifaced). Artinya, bahwa seni tradisi dapat diamati dari berbagai sudut pandang dan berbicara untuk mengungkapkan proses pengetahuan dan perilaku sosial yang beragam pula. Dari konteks inilah kemudian ditemukan sebuah pemahaman, bahwa seni tradisi lahir sesuai dengan tingkat peradaban manusia pendukungnya. Oleh karenanya dalam seni tradisi di dalamnya mengandung pengetahuan peradaban komunitas-komunitas manusia Indonesia yang beragam. Dalam kaitan ini, kebudayaan Indonesia sebagian terekspresikan lewat beragam seni tradisi yang hidup di Indonesia itu. Maka, bukan sesuatu yang tidak masuk akal jika seni nusantara itu menjelma menjadi sebuah tradisi yang secara terus menerus berupaya diwariskan dan dipelajari dari generasi ke generasi berikutnya. 

Tradisi berasal dari bahasa Inggris yaitu kata tradition, kita memahaminya sebagai sesuatu yang bersifat turun-temurun, kebiasaan, adat istiadat, dan sebagainya. Apabila dikaitkan dengan seni, merujuk pada pernyataan Prof. Waridi, tradisi mengandung pengertian seni-seni yang keberadaan dan perkembangannya merupakan warisan dari generasi ke generasi sebelumnya yang di dalamnya sarat dengan konvensi-konvensi, serta berkaitan dengan kebutuhan sistem-sosial kehidupan membudaya masyarakat pendukungnya. Walaupun seni tradisi merupakan warisan dari generasi ke generasi, akan tetapi bukan berarti hidup secara statis, ia terus berjalan dan berdialog dengan proses peradaban yang melingkupinya. Oleh karenanya saya menggarisbawahi pernyataan beliau yang mengatakan bahwa adalah wajar bilamana seni tradisi secara wujud, fungsi, dan maknanya selalu berubah-ubah seirama dengan dinamika sosial budaya masyarakat. Perubahan itu bisa saja terletak pada pengolahan bentuk, pengetahuan, serta muatan perilaku sosial yang terdapat di dalamnya. 

Berbicara tentang seni tradisi, menurut saya penting untuk dipelajari oleh siswa di sekolah, karena di dalamnya terkandung makna-makna yang pantas untuk diteladani dalam konteks kehidupan manusia secara berkesinambungan. Bahkan Ki Hajar Dewantara memandang bahwa mempelajari seni tradisi dapat menghaluskan budi kita. Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa alat untuk menghaluskan budi ini ialah halusnya pendengaran dan penglihatan (misalnya belajar gamelan). Penglihatan berpengaruh pada pikiran kita, sedangkan pendengaran berpengaruh pada perasaan atau perangai. Jadi, dengan halusnya kedua panca indera tersebut maka akan berakibat halusnya manusia. Kenapa manusia menjadi halus? Hal ini disebabkan karena panca indera kita merupakan alat-alat manusia yang menghubungkan jiwanya dengan dunia luar. 

Dari pernyataan Prof. Waridi dan Ki Hajar Dewantara tersebut, ternyata dalam seni tradisi terdapat makna esensial dan ruh yang pantas untuk diteruskan. Tetapi masalahnya sekarang adalah bagaimana cara untuk menyikapi seni tradisi agar tetap dapat berperan dalam pembelajaran di sekolah. Menurut saya hal tersebut merupakan sesuatu yang amat sangat kompleks, kenapa? karena pada saat ini, kehidupan seni tradisi disekolah dihadapkan pada gemerlapnya budaya populer yang lebih menghibur dan sesuai dengan selera siswa. Sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks keadaan siswa dan konteks lingkungan yang mempengaruhinya. 

Tantangan Seni Tradisi di Sekolah 

Keberadaan seni tradisi di era globalisasi dihadapkan kepada sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Saya setuju apa yang dikatakan oleh Prof. Waridi, tentang tantangan-tantangan yang dihadapi seni tradisi saat ini, terutama di sekolah. Hal itu dapat diidentifikasikan sebagai berikut. 

1. Kontinuitas pemahaman dan apresiasi (siswa) terhadap seni tradisi dari waktu ke waktu cenderung semakin menipis. Artinya telah terdapat kecenderungan diskontinuitas di tingkat apresiasi dan pemahaman. Persoalan ini sangat mungkin terjadi karena; 

2. Kurang tersedianya ruang dan sarana yang cukup bagi (siswa) anak-anak muda untuk mendapat kesempatan mengapresiasi seni tradisi secara serius. 

3. Belum terjadi proses internalisasi unsur-unsur seni tradisi secara wajar, sinambung, dan sistemik dalam usia anak dini dan remaja. Dalam artian pembelajaran seni saat ini, masih mengabaikan konteks keadaan siswa dan lingkungannya. 

4. Sebagian seni tradisi cenderung tampil kurang menggairahkan, karena dalam keadaan lesu darah. Hal ini berkaitan dengan persoalan semakin memudarnya patron-patron yang memayungi seni tradisi untuk terus mampu melakukan aktivitas pentas maupun kegiatan-kegiatan yang berada di tengah-tengah masyarakat. Seperti kurangnya dukungan dari pemda-pemda dalam upaya menghidupkan kembali seni tradisi. 

5. Berhadapan dengan kebudayaan seni pop yang dipandang dapat mencitrakan gejolak emosi anak muda (siswa remaja). 

6. Munculnya kekuatan kapitalis yang bergerak dalam industri budaya, cenderung memberi ruang sangat luas terhadap jenis-jenis seni populer. Secara realitas kekuatan ini sulit untuk dihindari dan masyarakat seni tradisi tidak memiliki kekuatan untuk mengimbanginya. Akibatnya satu kendala yang lain segera melengkapi tantangan-tantangan lainnya yang muncul dalam dunia seni tradisi, yaitu; 

7. Seni tradisi lebih dipandang dan dicitrakan sebagai seni masa lalu yang kurang mencitrakan kemodernan. Bila demikian terdapat sesuatu yang agak menggelisahkan, yakni kemungkinan munculnya suatu persepsi yang memandang, bahwa seni populer dalam perspektif umum dijadikan sebagai ukuran atau standar mutu keberadaan sebuah seni termasuk festival-festival atau kontes-kontes pada suatu bangsa. Tanda-tanda ini mulai muncul di Indonesia, yakni penilaian yang didasarkan atas banyaknya dukungan yang masuk terhadap seseorang atau sekelompok orang yang berdampak langsung terhadap dimenangkannya seseorang dalam suatu kontes kesenian. Tindakan semacam ini secara jelas telah terdapat upaya-upaya dari sekelompok orang untuk menggeser persoalan subjektivitas kesenian ke arah objektivitas publik. 

Salah satu ciri esensial subjektivitas dalam penilaian terhadap suatu kualitas kesenian biasanya dipercayakan kepada dewan pakar atau seorang ahli dibidangnya, sementara yang berkembang saat ini, kewenangannya dialihkan kepada publik. Penilaian dari dewan pakar untuk menentukan kualitas suatu sajian kesenian, biasanya disertai analisis yang mendalam terhadap berbagai unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Pertimbangan yang diambil lebih mengutamakan persoalan-persoalan estetik dan konteksnya, sehingga hasil penilaiannya dapat dipertanggungjawabkan. Sementara di sisi lain penilaian yang dilakukan oleh publik sering tercampur dengan persoalan "suka atau tidak suka". 

Akibatnya bisa saja terjadi, bahwa yang menang bukan mencerminkan kualitas yang sesungguhnya, dalam kata lain kemenangan yang bersifat semu. Bilamana ini menggelinding secara terus menerus, bisa jadi dapat berpengaruh kuat terhadap terbentuknya opini dan persepsi publik, bahwa seni yang dianggap baik adalah seni yang disenangi oleh banyak orang, bukan seni yang secara fungsional mampu hidup dalam konteks kehidupan membudaya masyarakatnya. Pemahaman seperti itu secara jelas hanya memandang, bahwa seni semata-mata didudukkan sebagai objek hiburan. Dari awal persepsi yang demikian itulah seni tradisi nusantara mulai mengalami kesenjangan di kalangan anak muda (siswa). Seni tradisi sudah tidak lagi dipandang sebagai bagian dari kebudayaan mereka. 

Jadi, dari pernyataan di atas, kenyataan tantangan-tantangan tersebut melahirkan dua persepsi, yakni pertama pandangan yang menempatkan massa sebagai basis orientasi penilaian. Dalam persepsi ini tergambar, bahwa baik dan buruk suatu karya seni didasarkan atas pertimbangan selera massa dari pada kualitas yang dilegitimasi oleh ahlinya. Secara jelas cara semacam ini dilatari oleh semangat budaya populer dan kapitalis, dimana partisipasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat merupakan salah satu tujuan untuk meneguk keuntungan finansial. Situasi yang demikian ini seni tradisi telah dilepaskan dari roh spiritualitasnya dan menjelma menjadi bagian seni yang bersifat profan dan hiburan. Nilai-nilai toleransi, perekat sosial, kebersamaan, kemerdekaan, kreatifitas, dan kesetiakawanan sosial menjadi hilang. Persepsi kedua, tetap menempatkan seni tradisi sebagai basis kekaryaan dan sarana internalisasi nilai-nilai tersebut di atas. Persepsi yang kedua ini umumnya memilih jalur mengolah potensi yang terdapat dalam seni tradisi dengan tetap mempertimbangkan aspek kulturalnya, yakni mengolah seni tradisi dengan pendekatan reinterpretasi. Tentunya dua persepsi ini berdampak secara signifikan terhadap apresiasi masyarakat terhadap pendidikan seni tradisi. 

Seni Tradisi dalam Pembelajaran di Sekolah 

Seni tradisi mempunyai potensi yang cukup beragam dan memiliki kemampuan untuk merangsang imajinasi kreatif bagi para siswa. Menurut Prof. Waridi, potensi itu setidaknya dapat diidentifikasi sebagai berikut. 

1.seni tradisi nusantara cukup beragam dan masing-masing memiliki keunikan sesuai dengan kelokalannya. 

2.memiliki ragam instrumen, tangga nada, serta teknik permainannya secara spesifik. 

3.memiliki ragam lagu dan vokabuler permainan. 

4.memiliki ragam struktur dan bentuk. 

Dari keberagaman tersebut, implementasinya dalam pembelajaran di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Pendekatan re-interpretasi menjadi tawaran yang memungkinkan dapat menjaga keberlanjutan seni tradisi agar tetap mampu berbicara dalam konteks pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain, seni tradisi hanya dijadikan sebagai media pembelajaran untuk merangsang kreativitas siswa. Nilai-nilai atau ruh yang terkandung dalam seni tradisi dapat direinterpretasikan melalui media lain sesuai dengan keadaan siswa dan sarana prasarana sekolah. 

Pendekatan lainnya yakni pendekatan 'modernisme' dapat dimanfaatkan untuk melahirkan karya seni dengan cita rasa kekinian yang berbasis pada seni tradisi. Artinya, dari proses reinterpretasi tersebut siswa kemudian diajak ke konteks kehidupan saat ini (modern), sehingga diharapkan dapat melahirkan hasil karya seni melalui media lain, misalnya alat musik yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang dan lain sebagainya tanpa meninggalkan esensi dan ruh yang terkandung dalam seni tradisi. 

Jadi melalui dua pendekatan di atas, atau mungkin berbagai pendekatan lainnya, pembelajaran seni tradisi diharapkan mampu mendorong kreativitas anak, sehingga pada diri siswa tumbuh kesadaran estetis, toleran, sikap kritis terhadap karya seni, berbudi luhur, dan mempunyai jati diri yakni jati diri sebagai warga Indonesia, sehingga akhirnya dengan mempelajari seni tradisi, apresiasi siswa/masyarakat terhadap pembelajaran seni akan semakin meningkat pula. Dan yang tak kalah pentingnya yakni peran guru dan kebijakan sekolah. Kebijakan sekolah dan guru yang menaruh perhatian besar terhadap pembelajaran seni sesungguhnya mampu memberi dorongan terhadap semakin menguatnya apresiasi masyarakat terhadap pembelajaran seni khususnya seni tradisi.

Pendidikan Nasional Perlu Sentuhan Kreativitas

09.36 Posted In Edit This
Pendidikan Nasional Perlu Sentuhan Kreativitas 

Jumlah penganggur berlipat jumlahnya. Tak ayal, selama dua hari berturut-turut (31/11/2008 dan 1/12/2008), Kompas mewartakan betapa mencemaskannya kondisi sektor riil. PHK terpaksa dilakukan, sektor informal pun terkena getahnya. 

Dengan kondisi yang tidak stabil, kepastian akan jumlah penduduk yang makin banyak, urbanisasi meningkat, dan pada akhirnya kota menjadi incaran kaum marjinal mencari pekerjaan merupakan efek domino dari rentan atau fluktuatifnya dunia usaha kita. 

Tingkat kriminalitas yang kian meningkat, penyimpangan sosial banyak terjadi, dan kehidupan sosial terpenjara dengan rasa curiga dan tak percaya tinggi tinggi. Interaksi antar warga menurunkan aspek penghargaan sosial yang mumpuni antar sesama. 

Dunia berubah. Indonesia yang ramah hanya berbayang di masa lalu. Modernitas begitu menyakitkan. "Pasar domestik" (sektor informal) diamuk satpol PP. Gerobak dagang diangkut. Pedagang hanya memasrah. Pemodal kecil dengan sendirinya akan tergusur. Tidak ada proteksi bahkan penghargaan bagi mereka yang sudah melakukan terobosan kreatif. 

Di tengah pengangguran yang mengancam, sudah selayaknya pemerintah berterima kasih kepada warga negara yang lebih banyak meminjam modalnya dari rentenir daripada bank yang lebih percaya pada pengusaha bermodal besar. Singkat kata, memberdayakan warga yang marjinal bagai mimpi sebagaimana iklan politik di televisi. Iklan politik selebihnya tak beda jauh dengan kualitas sinetron yang lebih banyak mengumbar mimpi. 

Evaluasi dunia pendidikan 

Menganggur bukan hanya milik orang kecil. Namun juga itu berlaku bagi orang-orang yang bermental kecil. Orang-orang yang bermental kecil merasa cukup puas dengan apa yang terberikan. Fakta itu banyak berlaku di dunia persekolahan dan perguruan tinggi. Menurut HAR Tilaar, berdasarkan pendataan tahun 2007 jumlah diploma dan sarjana yang menganggur mencapai 740.000 orang (Kompas, 16/02/2008). 

Sering kali proses belajar tidak menantang siswa untuk melakukan terobosan dalam ruang interaksi sosial yang nyata. Di sebuah hipermarket atau toko-toko besar, kita banyak melihat banyak siswa SMK melakukan magang atau PKL. Di luar sekolah kejuruan, banyak siswa yang tersesat, tak bisa melanjutkan kuliah atas alasan minimnya dana. 

Perguruan tinggi negeri (PTN) yang infrastrukturnya dibangun dari pajak rakyat pun tak bisa berkutik. Alokasi pembiayaan yang semakin kecil dari pemerintah saja sudah membuat dosen hilir mudik mencari proyek-proyek penelitian dengan konsekuensi logis, meninggalkan lebih banyak waktu mengajarnya. Padahal riset yang dilakukan pun hanya berbatas pada kepentingan "perut" bukan lagi pada misi idealisme tridharma perguruan tinggi. 

Sungguh kompleks memang. Namun pengangguran yang semakin berbilang jumlahnya dan mengurita dimana-mana acapkali menimbulkan ekses yang merugikan banyak pihak. Untuk itu, portofolio dunia persekolahan dan perguruan tinggi yang semakin runyam perlu dievaluasi. 

Fungsi kreativitas dan imajinasi siswa harus lebih dikedepankan, sehingga standar kelulusan bukan lagi ditentukan dari ranah kognitif lagi. Ujian nasional (UN) jelas bertolak belakang dari keinginan negara mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Di Amerika, tidak ada hubungan nilai rata-rata siswa sekolah dasar dan menengah dengan berjubelnya pemenang nobel yang berasal dari negeri Paman Sam itu. Bahkan kalau mau diukur, prestasi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia lebih baik dibanding Amerika. 

'Kemenangan' dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika karena lebih mengedepankan aspek kreativitas dan imajinasi siswa. Kebebasan gaya belajar siswa yang liberatif memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi keunggulan dirinya. 

Tentu saja, kita tak pantas berbangga-ria, ketika anak-anak Indonesia sudah unggul di berbagai kompetisi setara olimpiade. Kemenangan itu baru sebatas teori, belum sampai pada tahap tindakan penemuan. Tentu saja, prasayarat dana, fasilitas riset (laboratorium), perpustakaan, dan infrastruktur pendukung lainnya harus tersedia, sehingga kemenangan akan terasa lebih nyata. Namun data menunjukkan bahwa di tingkatan SMP, sebanyak 34,3 persen sekolah belum mempunyai perpustakaan dan 38,2 persen tidak memiliki laboratorium (Kompas, 2/12/2008). 

Di perguruan tinggi, tak semua produk inovatif dapat dikomersialisasikan. Parker dan Mainelli (2001) mencatat bahwa dari 100 ide penelitian di perguruan tinggi Amerika hanya 10 yang kemudian direalisasikan dalam proyek penelitian. Dari ke-sepuluh proyek ini hanya dua yang dinilai memiliki potensi komersial dan hanya satu dari keduanya yang kemudian benar-benar menguntungkan. Simpulannya jelas, pengembangan inovasi hasil kreativitas dan imajinasi dapat menjadi basis pengembangan dana. Pekerjaan berat memang, karena selama 22 tahun (1985-2007) penetapan hak atas kekayaan intelektual di seluruh perguruan tinggi di Indonesia hanya 419 (Kompas, 18/11/2008). 

Pentingnya kreativitas 

Wabah kemalasan menjalar kemana-mana. Banyak orang lebih suka kenyamanan. Lebih baik kehilangan tantangan daripada kehilangan pekerjaan. Banyak sekolah dibuat sekadarnya. Banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang puluhan tahun mengajar diberi penghargaan atas alasan kasihan, bukan profesionalitas mereka. Kompleks! 

Guru bantu atau honorer, apapun namanya, sudah seperti pekerja sosial yang dipaksa mengajar profesional dengan gaji ala kadarnya atau dibayar gabah. Misi mulia mereka dianggap amal atau sekadar solidaritas sosial. Faktanya lagi, 63 persen guru TK-SMA di Indonesia belum sarjana (Kompas, 12/04/2008). Sebaliknya, Ki Supriyoko mencibir banyak remaja putri kota atau bahkan desa ingin menjadi guru TK bukan atas alasan mencintai profesi guru TK melainkan karena sulitnya mencari pekerjaan (Republika, 18/11/2008). Ironis! 

Selanjutnya, pemerintah sudah saatnya menjaga garda terdepan Republik ini dengan pendidikan sebagai senjata utamanya. Berbagai penemuan kreatif yang terjadi dengan proses evolusi pendidikan akan membalikkan kondisi Indonesia menjadi lebih terhormat di hadapan bangsa lain. Belum terlambat dan selalu ada waktu bagi siapapun yang mau berpikir bersama kompleksitasnya. 

Kalau kompleksitas itu adalah tantangannya, maka kreativitas berpikir adalah pijakan tepat mengantar nuansa pendidikan menjadi lebih menyenangkan. Masalah selalu diinginkan untuk menantang pikiran. Mengasah pikiran menjadi lebih peka terhadap permasalahan dan alternatif jawaban. Pada tahun 1970-an, D.W. MacKinnon, seorang profesor psikologi melakukan riset kreativitas di Universitas California di Berkeley. Hasil tes menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi, tingkat kecerdasannya tidaklah berbeda dari rekan-rekan mereka yang mempunyai kreativitas lebih rendah, tetapi mereka mengambil lebih banyak waktu untuk mempelajari masalah dan lebih lama "bermain dengan mereka." 

Pertanyaannya, mengapa bangsa ini terus mundur ke belakang? Karena selama ini, permasalahan dianggap neraka, sementara kenyamanan bagai surga. Berlomba-lombalah siswa mencari bimbel untuk tahu bagaimana mengisi soal ujian dengan mudah, tanpa lelah berpikir, dan tanpa harus bersusah payah. Padahal kalau ditelisik lebih jauh lagi, maka surga dikelilingi sesuatu yang tidak menyenangkan, sementara neraka selalu dikelilingi dengan segala yang menyenangkan. Sering kali belajar itu tak menyenangkan sebagaimana kata bijak "belajar itu akarnya pahit, buahnya manis." 

"Bermain" dengan masalah adalah bagian hidup dari pemikir kreatif yang konsisten bergulat dengan masalah. Mereka menikmati permainan tidak hanya sehari-dua hari, namun bertahun-tahun, belasan, sampai puluhan tahun. Sampai pada suatu titik perjalanan, apa yang mereka temukan dan hasilkan tidak hanya memenangkan diri sendiri, namun juga peradaban umat manusia secara keseluruhan dan kedigdayaan sebuah bangsa dimana ia berasal. 

Edison dengan penemuan lampunya, Bill Gates dengan komputer personalnya, James Watt dengan mesin uapnya, dan masih banyak tokoh lainnya yang dapat menjadi inspirasi betapa pentingnya harga sebuah kreativitas yang dapat mengangkat martabat bangsa. Itu bisa terjadi di Indonesia, kalau sistem pendidikan nasional mau lebih menekankan proses berpikir kreatif di dalamnya.

Penelitian Tindakan Kelas Meningkatkan Kualitas KBM

09.34 Posted In Edit This

Penelitian Tindakan Kelas Meningkatkan Kualitas KBM


Guru merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan. Keberhasilan suatu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru harus senantiasa didorong untuk mampu mengembangkan dirinya sendiri untuk mencapai tingkat kualitas tertentu, mempertahankan dan memelihara kualitas itu dalam bentuk penjaminan kualitas, untuk senantiasa melakukan upaya peningkatan kualitas kerjanya secara berkelanjutan. Kualitas kinerja professional seorang guru tidak hanya sebatas menguasai bahan ajar dan menerapkan metode pembelajaran yang baik. Lebih dari itu, guru harus memahami keadaan dan kebutuhan peserta didik yang unik dan bervariasi antara siswa yang satu dengan yang lainnya dan selalu berkembang dengan cepat dan sulit untuk diperkirakan sebelumnya. Pendekatan kearah pencapaian kualitas guru seperti itu akan berhasil melalui metode penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research (CAR). Dalam pendekatan ini, guru senantiasa berusaha untuk mengintegrasikan ilmu ke dalam praktek, baik ilmu tentang bahan yang diajarkan, maupun ilmu tentang bagaimana mengajar, dan bagaimana bergaul dengan peserta didik. Dengan demikian, dia akan menjadi guru peneliti yang reflektif (reflective teacher - researcher).

Menurut Budi Susetyo, Sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut :

1. JUDUL

Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal.

2. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta - fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian -penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.

3. PERMASALAHAN

Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar - benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.

4. CARA PEMECAHAN MASALAH

Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

5. TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian - bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan. Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan - keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan - rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

6. KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Pada bagian ini diuraikan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternative, yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku - pelaku PTK lain disamping terhadap teori - teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aras kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

7. RENCANA PENELITIAN

Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian

Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan,tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantive permasalahan seperti Matematika kelas II SMPLB atau bahasa inggris kelas III SMLB, juga dikemukakan pada bagian ini.

Variabel yang diselidiki

Pada bagian ini ditentukan variabel - variabel penelitian yang dijadikan titik - titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

Rencana Tindakan

Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti : 1) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat - alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain - lin yang terkait bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternative - alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen LPTK juga dikemukakan pada bagian ini. 2) Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. 3) Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. 4) Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

Data dan cara pengumpulannya

Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan juranal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya.selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, Para guru juga harus aktif sebagai pengumoul data, bukan semata - mata sebagai sumber data. Akhirnya semu teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. Penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

Indikator kinerja

Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (njumlah jenis dan atau tingkat kegawatan)miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

Tim peneliti dan tugasnya

Pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama - nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian..

8. JADWAL PENELITIAN

Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.

9. RENCANA ANGGARAN

1. Komponen - komponen pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut : a. Persiapan Kegiatan persiapan antara lain meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrument penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. b. Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup antara lain pelancaran tes diagnostic dan analisis hasilnya, gladi resik implementasi tindakan, perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. c. Penyusunan Laporan Hasil PTK Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep laporan, review konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir.

Seminar local hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sebagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK, serta pembuatan artikel hasil PTK dalm bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
2. Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dari metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya. Sarana yang diperlukan dan output yang diharapkan. 1) Beberapa patokan pembiayaan satuan kegiatan penelitian

a. Honorarium

1) Ketua Peneliti
2) Anggota tim peneliti
3) Tenaga Administrasi Besarnya honorarium tergantung pada sumber pandanaan

b. Bahan dan Peralatan penelitian

1) Bahan habis pakai
2) Alat habis
3) Sewa alat

c. Perjalanan

1) Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan
2) Transportasi local sesuai harga setempat
3) Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan
4) Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang, satu kali, selama dua hari
5) Konsultasi ketua tim peneliti ke PGSM selama dua hari

d. Laporan Penelitian

1) Penggandaan
2) Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan inggris
3) Pengiriman

e. Seminar

1) Seminar lokal, konsumsi sesuai harga setempat, biaya penyelenggaraan sesuai dengan harga setempat
2) Seminar nasional minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu guru pelaku PTK) 

D. Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang . hendaknya pustaka benar - benar relevan dan sungguh - sungguh dipergunakan dalam penelitian.

10. LAMPIRAN DAN LAIN - LAIN
Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti. Curriculum vitae tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat pendidikan, pelatihan di bidang penelitian yang telah pernah diikuti, baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK. Hal - hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.

Dilihat sekilas, PTK merupakan kegiatan yang cukup sulit. tetapi dengan mencoba semua akan menjadi lebih mudah. Selamat berkarya.

PELACURAN BERSERAGAM SEKOLAH

09.33 Posted In Edit This
PELACURAN BERSERAGAM SEKOLAH 


Ditengah hiruk-pikuknya masalah pendidikan di negeri ini karena disibukkan dengan penerimaam siswa baru ataupun mahasiswa baru, tidak menjadikan masalah yang satu ini hilang begitu saja. Diakui atau tidak, pelacuran berseragam sekolah tetap ada. Hasil investigasi sebuah stasiun TV swasta di negeri ini tentang pelacuran di balik seragam sekolah membuat prihatin banyak pihak. Betapa tidak, jumlahnya ternyata cukup banyak dan menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan kita. Harus diakui keberadaannya susah-gampang-gampang untuk dibuktikan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka benar adanya. Tidak heran mereka sudah mempunyai predikat sendiri, semisal ayam sekolah ataupun ayam kampus. 

Penulis tertarik untuk menulis ini karena mereka termasuk orang-orang kreatif yang mampu memanfaatkan potensi diri walaupun dengan jalan yang tidak baik. Mereka pandai memanfaatkan seragam sekolah sebagai media mencari keuntungan dan kenikmatan sendiri. Seragam sekolah dijadikan daya tarik untuk mencari pelanggan dan sekaligus dijadikan pelindung bagi kegiatan maksiatnya. 

Remaja dan Pencarian Diri 

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Peralihan ini meliputi semua perkembangan yang dialaminya sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Dalam proses memasuki masa dewasa, remaja mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikologis. Remaja dianggap sudah tidak seperti anak-anak lagi, untuk itu ia dianggap mampu untuk menjadi dewasa.ia pun harus siap berhadapan dengan berbagai masalah. 

Bambang Y Mulyono, menyebutkan bahwa dalam masa remaja seseorang juga mengalami perkembangan seksualitas. Oleh karena itu, mulai timbul dorongan-dorongan seksual yang kadang-kadang kuat sekali. Apabila mereka tidak dapat atau tidak mampu menahan dorongan ini, terutama karena ego mereka kurang dewasa maka mudah sekali remaja tersebut terjerumus dalam hubungan seksual. Pada masa remaja, terutama perubahan jasmani menyangkut segi-segi seksual biasa terjadi di antara umur 13-14 tahun. Perubahan-perubahan ini biasanya berjalan sampai umur 20-21 tahun. Oleh karena itu, masa remaja biasanya dianggap terjadi di antara umur 13-21 tahun. Di sini masa-masa kritis dialami oleh remaja. 

Perkembangan remaja secara fisik apat dilihat dari perubahan yang sangat mencolok pada anak wanita dengan melihat pertambahan berat badan terutama disebabkan oleh bertambahnya jaringan pengikat di bawah kulit, terutama pada paha, pantat, lengan atas dan dada. Sedangkan pada anak pria lebih disebabkan oleh makin bertambah kuatnya susunan urat daging. 

Secara psikologis perkembangan remaja meliputi perkembangan intelektual, emosional, dan identitas. Perkembangan intelektual remaja menyebabkan ia mampu memikirkan dirinya sendiri dan hal ini membuat remaja mempunyai ide-ide berlebihan yang disertai dengan teori-teori dan sikap kritis. Perkembangan emosional berhubungan dengan ego atau ke-akuan. Emosional pada remaja tidak tetap, hal ini menyebabkan remaja sering kali rentan pada perkembangan ini. Perkembangan identitas juga menjadi sangat rentan bagi remaja. Berusaha mencari tahu siapa aku ini, apa jadinya aku, mau apa aku dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak remaja. Tidak heran jika banyak remaja yang pada proses pencarian identitas diri mengalami proses perubahan yang cukup cepat. Pada satu sisi mereka ingin diakui, namun di sisi lain mereka belum siap untuk menjadi diri mereka sendiri. 

Berlindung di Balik Seragam Sekolah 

Pada umumnya orang akan mengecam bahkan mengutuk pelacuran itu, namun demikian ada pula yang bersimpati kepada mereka. Kendati banyak yang mengutuknya tidak dapat dipungkiri bahwa pelacuran berseragam sekolah tetap ada. Kartini Kartono dalam bukunya Pathologi Sosial (1981) menuliskan bahwa pelacuran yang sering disebut sebagai prostitusi (dari kata Latin prostituere atau prostauree) adalah membiarkan diri berbuat zinah, melakuan persundalan, percabulan, pergendakan. Selain itu, Bonger dalam Gilbert dan Reinda (1996), menyatakan bahwa prostitusi adalah gejala kemasyarakatan dengan wanita yang menjual diri dan melakukan perbuatan tersebut sebagai mata pencaharian. 

Hellen Buckingham seperti dikutif A.N. Krisna (1979), pelacuran adalah hasil langsung dari usaha perekonomian seorang wanita. Pelacuran adalah profesi wanita yang paling purba, di mana untuk pertama kalinya seorang wanita memperoleh penghasilannya, dan hasilnya yang paling langsung lantaran modalnya adalah dagingnya sendiri. 

Dalam majalah Jakarta-Jakarta ditulis, kalau anda menjumpai cewek pelajar menggunakan baju seragam agak tipis, menerawang, maka besar kemungkinan itulah cewek yang anda cari. Kode lain konon adanya tempelen tensoplast pada badge lokasi sekolah yang dijahit pada lengan baju. Namun menurut Gilbert dan Reinda (1996), tanda-tanda inipun seringkali berubah-ubah. Biasanya setelah arti suatu tanda terbongkar luas, mereka membuat tanda rahasia baru. Gilbert dan Reinda menemukan bahwa tahun 1982-1984, tanda yang digunakan adalah tali sepatu yang diikat ke belakang. Tahun 1984-1986, tandanya tensoplast yang ditempel pada tas sekolah dan satu jari (biasanya ibu jari) memakai pewarna kuku. Biasanya juga mereka memakai anting-anting lebih dari satu pada telinga kiri. 

Bahkan lebih garang lagi laporan Majalah Lisptik. Banyak mall di Jakarta yang dipadati pelajar dan baju seragam yang dipakai tampa badge lokasi sekolah, dan "anehnya" mereka tampa menggunakan BH. Konon kata security di sana, mereka bisa diajak kencan. 

Untuk mengetahui jelas memang agak susah. Selintas mereka sama seperti pelajar kebanyakan. Mereka seolah-olah mencari suatu barang di pasar ataupun pusat perbelanjaan. Jika bertemua sesama wanita mereka terlihat biasa saja, namun jika bertemu dengan lawan jenis maka reaksi mereka agak berlebihan bahkan sengaja mencari perhatian, terlebih jika menemui orang yang tampan atau sudah berumur namun necis (biasanya mereka memperhatikan baju, celana, HP, jam tangan, ikat pingggang, dan pena). 

Di pusat perbelanjaan, mereka biasanya berkelompok 2-5 orang. Gaya serta tingkah laku mereka memang sengat dibuat-buat, terlebih jika ada mangsa maka mereka sengaja mencari perhatian. Misalnya bagi mangsa yang berumur dan necis, dengan menanyakan waktu, menanyakan nomor telpon tertentu, dan lainnya. Jika yang seumuran cukup dengan pandangan mata, kedipan, maupun senyuman maka semuanya bisa berlanjut pada pembicaraan. Tidak jarang jika mereka pakai mobil cara-cara yang digunakan misalnya dengan membunyikan klakson pendek sebanyak tiga kali, memainkan lampu, dan melambaikan tangan tanda kenal. Jika si mangsa mengerti maka dapat langsung berlanjut 

Mengenai tempat mangkal pasti, mereka berbeda dengan PSK (Penjaja Seks komersil) kebanyakan. Layaknya pelajar, mereka lebih senang beroperasi di pusat-pusat perbelanjaan, diskotek-diskotek, dan tempat-tempat nongkrong remaja kebanyakan. Bahkan pengelola sebuah diskotek di Jakarta mengaku sengaja memberikan free-pass atau card kepada mereka untuk masuk gratis dengan alasan mereka dapat memancing banyak tamu untuk datang. 

Apa Sebabnya 

Banyak diantara mereka yang merupakan siswa yang masih aktif di sekolah. Di sekolah kelakuan mereka kadang tidak berbeda dengan siswa lainnya. Jika demikian, mengapa mereka berbuat seperti itu ? 

Dr. Ali Akbar mengemukakan beberapa alasan mengapa wanita menjadi pelacur, antara lain : pertama, tekanan ekonomi sehingga terpaksa menjual diri sendiri dengan jalan dan cara yang paling mudah. Kedua, tidak puas dengan apa yang ada, sebab tidak dapat membeli barang-barang yang bagus dan mahal. Ketiga, karena sakit hati akibat telah dinodai kekasihnya dan ditingggalkan begitu saja. Keempat, karena tidak puas dengan kehidupan seksualnya atau hiperseksual. 

Sedangkan Kartini Kartono menyebutkan bahwa salah satu penyebab pelacuran karena pada masa kanak-kanak pernah melakukan hubungan seks atau suka melakukan hubungan seks sebelum perkawinan, sekedar menikmati masa indah pada masa muda. Atau sebagai simbol keberanian telah menjalani dunia seks secara nyata. Selanjutya terbiasa melakukan hubungan seks secara bebas dengan banyak pemuda sebaya, kemudian terperosok ke dalam dunia pelacuran. Penyebab lainnya, karena termakan bujuk rayu kaum laki-laki, kehidupan keluarga yang broken home, anak gadis yang memberontak terhadap otoritas orang tua yang menekankan banyak hal yang tabu dan peraturan seks, dan ajakan teman-teman yang telah terjun dahulu kedalam dunia pelacuran. 

Proses Penyadaran 

Jika sudah diketahui penyebabnya, apakah kita dapat menghentikan atau menyadarkan mereka. Memberikan pengertian bahwa perbuatan mereka adalah hal yang dilarang tidak saja menurut agama tetapi juga menurut norma sosial yang ada di masyarakat. Namun kadang yang membuat mereka sulit untuk berubah adalah sikap masyarakat itu sendiri. Karena telah menggunakan seragam sekolah untuk kepentingan sendiri, sepertinya masyarakat sangat sulit menerima sadarnya mereka (mungkin itu juga sebagai hukuman). Tapi bagaimanapun juga, sebagai manusia kita patut mendukung dan memberikan kesadaran agar mereka berubah dan mengembalikan seragam sekolah sebagaimana mestinya. 

Pepatah menyebutkan, "lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali". Kiranya patut untuk menjadi bahan pemikiran bagi proses penyadaran mereka. Dewasa ini banyak lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang peduli dengan mereka. Salah satunya adalah Komnas Perlindungan Anak, yang secara konsens membela hak-hak anak dan memberikan konsultasi dan advokasi bagai permasalahan anak. Termasuk diantaranya tentang pelacuran berseragam sekolah. Disaat pemerintah disibukkan dengan berbagai persoalan lain di negeri ini, keberadaan Komnas Perlindungan Anak ini menjadi sangat penting. Patut didukung usaha mereka dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa ini. 

Benteng utama adalah orang tua dan keluarga. Disinilah anak bersosialisasi sebelum berinteraksi dengan lingkungannya (masyarakat). Namun belum cukup jika hanya itu, lingkungan ynag sehat dan terbebas dari pelacuran jika menjadi faktor penentu. Terlebih sekolah yang diharapkan mampu memberikan pendidikan bagi kedewasaannya kelak mampu menjalankan fungsinya secara benar maka kita dapat tenang bahwa anak kita terhindar dari pelacuran. 

Orang tua dan Kelurga hendaknya mewaspadai anak jika mempunyai keinginan untuk selalu keluar main dengan temannya tampa alasan yang rasional. Juga jika dikamarnya ditemukan barang-barang mewah ataupun mahal yang tidak kita berikan patut untuk dipertanyakan. Bertanya dengan penuh kasih tampa langsung menuduh yang tidak-tidak. Patut juga ditanya jika si anak pergi sekolah ataupun keluar, ditanya dengan siapa dan rencanya kemana saja. Hal-hal kecil ini setidaknya menjukkan perhatian kita, juga menjadi bahan pencarian jika ada hal-hal yang terjadi di luar kebiasaan. 

Apalah artinya uang saku anak yang banyak tetapi mereka kurang perhatian. Orangtua sibuk dengan urusan masing-masing, si anak sibuk dengan temannya. Tak ada komunikasi yang terjalin secara intens, akhirnya rumah hanya menjadi tempat tidur istirahat malam. 

Menyerahkan anak sepenuhnya kepada sekolah juga bukan tindakan yang tepat. Perlu diingat bahwa intensitas anak di sekolah hanya berlangsung selama 7-8 jam sehari sedangkan sisi waktunya adalah dengan keluarga. Artinya, sekolah tidak dapat menjamin bahwa kelakuan anak anda akan selalu baik. 

Sigmund Freud menyebutkan bahwa titik tolak dari kekerasan yang dilakukan seseorang berasal dari keluarga (termasuk segala bentuk penyimpangan). Karenanya, jadikanlah keluarga anda sebagai keluarga yang menjadi teladan bagi anak-anaknya, semoga.

Desain Pengembangan Lab Bahasa Digital

09.31 Posted In Edit This
Desain Pengembangan Lab Bahasa Digital 


Suatu babak baru dalam zaman modern ini telah datang, dimana kita sangat bergantung pada informasi. Negara-negara maju secara ekonomi, menempatkan informasi dan teknologinya sebagai salah satu point terpenting didalam mempercepat proses transformasi dibidang perekonomian dan kehidupandinegaranya. Dengan penguasaan teknologi informasi yang baik, mereka mampu mensinergikan teknologi informasi tersebut dengan sektor atau bidang lainnya seperti pertanian, kelautan, kesehatan, pemerintahan, perekonomian, pendidikan, dan lain-lain, guna memberikan nilai tambah atau meningkatkan kesejahteraan penduduk di negaranya. Bagaimana dengan negara kita?

Saat ini penggunaan teknologi informasi mulai marak dinegara kita, terutama disektor industri. Namun, dari segi pemanfaatannya, masih belum maksimal. Tidak maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi ini, salah satunya disebabkan karena kurang siapnya sumber daya manusia dalam menggunakan, memanfaatkan dan mengantisipasi perkembangan teknologi informasi tersebut. Selain itu, perkembangan teknologi informasi yang pesat serta sifatnya yang global, akan semakin sulit dipelajari bila tidak didukung oleh kemampuan penguasaan bahasa asing. Bahasa sebagai salah satu bentuk alat penyampaian informasi merupakan elemen kunci bagi penguasaan teknologi informasi.

Peran serta sektor pendidikan dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia dibidang teknologi informasi dan bahasa dapat menjadi solusi bagi hal tersebut diatas. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan pengenalan dan pembelajaran sejak dini terhadap teknologi informasi dan bahasa asing disekolah-sekolah. Guna tercapai tujuan diatas, banyak sekali hal yang perlu disiapkan diantaranya, sarana prasarana dan juga metoda pengajaran. Seperti, penyediaan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa disekolah-sekolah. Besarnya biaya yang diperlukan untuk menyiapkan sarana prasarana seperti, ruang, peralatan lab, dan materi pengajaran menimbulkan ketimpangan atau tidak semua sekolah mampu menyediakan fasilitas tersebut diatas. Masalah yang muncul tersebut tentunya bukan lantas menyurutkan langkah kita untuk turut serta meningkatkan kualitas sistem pendidikan dinegara kita, melainkan menjadi salah satu pemacu agar kita dapat mencari solusi dari masalah tersebut, karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama.

Selama kurang lebih dua tahun kami sebagai pengembang perangkat lunak (software developer) telah bekerja keras guna mencari pemecahan masalah tersebut, dan kami berhasil mengembangkan suatu sistem beserta perangkat lunaknya (software) sebagai suatu solusi efektif bagi masalah diatas. Yaitu dengan memanfaatkan Computerized Laboratories System yang telah dilengkapi oleh perangkat lunak De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6. De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6 adalah software yang dibuat untuk mengoptimalkan kemampuan laboratorium komputer agar dapat pula berfungsi sebagai laboratorium bahasa. Tujuan dari dikembangkannya aplikasi ini adalah untuk menghemat biaya pembuatan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa. Dengan adanya aplikasi ini suatu sekolah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan tidak perlu lagi untuk membangun sebuah laboratorium komputer dan sebuah laboratorium bahasa. Cukup dengan membangun laboratorium komputer (computerized laboratories system) yang telah dilengkapi oleh software De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6, maka sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan telah memiliki laboratorium komputer sekaligus juga laboratorium bahasa.

Tujuan

Implementasi lab bahasa digital dilakukan dengan sejumlah tujuan sebagai berikut :

1. Mempersenjatai setiap siswa untuk keberhasilan, yaitu dengan cara membuat siswa menjadi akrab dengan komputer dan perkembangan teknologinya (pengenalan sejak dini terhadap teknologi informasi).

2. Proses pembelajaran berbagai bahasa asing dengan lebih baik. Yaitu dengan memanfaatkan kemampuan komputer dalam mengolah gambar dan suara.

3. Efisiensi dalam penyediaan peralatan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa.

4. Optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi sebagai salah satu alat untuk menyempurnakan model/metode pengajaran dan pembelajaran.

5. Diharapkan dengan desain pengembangan ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran. 

Ruang Lingkup Pekerjaan

Pada pengerjaan Implementasi Lab Bahasa Digital ini ini terdapat beberapa bagian pekerjaan, yaitu :

. Instalasi aplikasi De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6

. Pelatihan Pengguna

. Pemasangan jaringan komputer.

GAMBARAN SISTEM

Deskripsi Produk yang Dipakai

De'Lab Ver 1.6 adalah software yang berfungsi untuk mengoptimalkan kemampuan laboratorium komputer agar dapat pula berfungsi sebagai laboratorium bahasa. Tujuan dari dikembangkannya aplikasi ini yaitu untuk menghemat biaya pembangunan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa. Dengan adanya aplikasi ini sekolah, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat memiliki laboratorium komputer sekaligus juga laboratorium bahasa. Fitur-fitur yang terdapat pada software De'Lab Ver 1.6 ini sesuai dengan fitur-fitur peralatan lab bahasa pada umumnya, bahkan ada beberapa fitur yang tidak terdapat pada peralatan lab bahasa standar. Fitur-fitur yang terdapat pada aplikasi ini diantaranya:

1. Materi pengajaran dapat berbentuk digital baik audio dan video (lab bahasa konvensional materi berbentuk audio analog/kaset, untuk video diperlukan peralatan tambahan). Pada lab bahasa konvensional sering terjadi gangguan mekanik pada pemutar kaset materi. Hal ini menyebabkan biaya kepemilikkan dari materi pengajaran menjadi besar. Pemakaian yang berulang-ulang dapat mengakibatkan sering terjadinya kerusakan pada pita kaset. Dalam format digital hal ini tidak akan terjadi.

2. Terdapat fungsi untuk Manajemen atau pengaturan materi pengajaran, guru tidak perlu bingung memilih kaset materi saat proses belajar mengajar sedang berlangsung.

3. Terdapat fitur komunikasi langsung antara pengajar dengan seorang siswa atau seluruh siswa.

4. Kemudahan dalam updating materi pengajaran dan dalam pembuatan materi pengajaran sendiri. 

5. Terdapat fitur dimana siswa dapat memilih sendiri materi yang akan dipelajari.

6. Penggunaan software yang mudah, diharapkan akan membantu meningkatkan proses belajar dan mengajar yang efektif. 

7. Terdapat database siswa dan pengajar, yang nantinya dapat dikembangkan menjadi system informasi akademik untuk setiap siswa. 

8. Terdapat modul examination/test dalam bentuk multiple choice atau benar salah, dimana hal tersebut tidak terdapat dalam lab bahasa konvensional.

9. Terdapat record nilai ujian siswa, sehingga guru dapat memantau perkembangan kemampuan siswa. 

10. Serta masih banyak lagi fitur-fitur lainnya. 

Skema Jaringan

Skema peralatan dan jaringan yang diperlukan untuk mengoperasikan De'Lab Ver 1.6 yaitu menggunakan topologi jaringan berbentuk star yang saat ini sangat umum digunakan. Perangkat Keras

Perangkat lunak De'Lab Ver 1.6 berjalan dalam sebuah jaringan komputer dengan spesifikasi perangkat keras sebagai berikut :

1. SERVER/komputer pengajar (1 unit), minimum spek :
- Processor Pentium III 800 Mhz
- RAM 128 MB
- 40 GB HDD
- Full duplex sound card
- Ethernet Card 10/100 Mbps
- Headset
- Perangkat lunak pendukung MS SQLServer 2000

2. Workstation/komputer siswa (maksimum 34 unit), minimum spek:
- Processor Pentium II 500 Mhz
- RAM 64 MB
- 40 GB HDD
- Full duplex sound card
- Ethernet Card 10/100 Mbps
- Headset

3. Peralatan Jaringan
- Switch 10/100 Mbps ( 24 port dan 16 port)
- Rj 45 konektor (1 dus)
- UTP cable (1 roll)
- Ethernet Adapter (sesuai jumlah PC, max 35)

4. Luas area masing-masing anak : 3,5 m2

5. Instalasi listrik

Tampilan Sistem

Sistem terdiri dari modul Server (diinstal di server) dan modul klien (diinstal di workstation). Tampilan sistem baik di server (guru) maupun di workstation (siswa) sebagai berikut :

Setting dan Layout Lab

Proses set up agar komputer pengajar dapat berinteraksi dengan komputer siswa, dengan mudah dilakukan dikomputer pengajar yaitu hanya dengan memasukkan alamat/protokol komputer siswa (IP Address). Selain itu setting penomoran komputer siswa dapat disesuaikan dengan layout penempatan komputer pada kondisi sebenarnya misalkan: memanjang, berbentuk setengah lingkaran, dan lain-lain seperti gambar dibawah ini. Kemampuan aplikasi ini dapat berkomunikasi sampai dengan komputer siswa.

Tampilan layout komputer siswa dikomputer pengajar dan layout komputer siswa dilaboratorium bahasa. 

Manajemen Materi Belajar

Pengaturan materi pengajaran sangat mudah dilakukan dan sangat fleksibel. Materi dapat disusun berdasarkan jenis bahasa, kelompok pengguna, berdasarkan jenis materi tersebut (audio atau video), atau membuat kategori pengelompokkan sendiri.

Consol materi berbentuk trees ini akan mempermudahpengelompokkan materi 

Display Materi

Pengajar dapat mengetahui materi (audio dan video) yang sedang aktif dikomputer siswa, karena pada aplikasi yang ada dipengajar telah dilengkapi dengan media player.

Panel Kendali

Pada Kontrol panel ini terdapat tombol-tombol (button) yang berfungsi untuk mengatur sesi materi. Control mode: yaitu sesi khusus yang artinya seluruh siswa dilaboratorium menjalankan materi yang sama dan telah ditentukan oleh pengajar, Free mode: yaitu sesi bebas yang artinya siswa dapat memilih sendiri materi yang akan diaktifkan. Selain itu terdapat juga tombol untuk menyampaikan informasi atau komunikasi satu arah dengan seluruh siswa (Broadcast button).

Komunikasi

Software ini telah dilengkapi dengan mekanisme interaksi antara guru dengan siswa. Guru dapat berbicara dengan seluruh siswa atau hanya dengan seorang siswa. Begitu juga sebaliknya, siswa dapat bertanya/berkomunikasi dengan guru.

Modul Ujian

Salah satu keistimewaan dari aplikasi ini yaitu telah adanya modul untuk ujian dalam bentuk multiple choice dan truefalse yang terhubung pada database guru dan siswa serta telah dilengkapi pula dengan system scoring dan pengaturan waktu ujian.

WAKTU DAN BIAYA

Waktu Implementasi

Implementasi lab bahasa digital ini akan memakan waktu tertentu sesuai dengan tahapan pengerjaannya. Di bawah ini diberikan tabel rencana kerja dalam satuan hari.

Total waktu implementasi 4 hari. Selanjutnya dapat mulai digunakan sesuai dengan kebutuhan dan materi ajar bahasa yang ada (audio atau video).

Biaya Implementasi

Biaya implementasi berikut pengadaan perangkat sistemnya diberikan di bawah ini. 
Biaya di atas tidak termasuk :
- Biaya pengadaan perangkat lunak di luar De'Lab 1.6 seperti sistem operasi MS Windows, Database MS SQLServer atau aplikasi lainnya (pengolah audio/video).
- Biaya instalasi jaringan dan pengadaan perangkat keras yang diperlukan.
- Biaya transport dan akomodasi untuk implementasi di luar Jawa.
- PPN 10%.